Undana Tambah Satu Doktor Lulusan Unair

Civitas Akademika Universitas Nusa Cendana (Undana) patut berbangga, karena salah satu dosen senior  pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Dr.Yendris Krisno Syamrud, S.KM.,M.Kes berhasil menyelesaikan ujian disertasi dengan judul “Pengembangan Indeks Keluarga Sehat Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) di  Provinsi Nusa Tenggara Timur” pada ujian akhir Disertasi Program Study Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga (Unair), Rabu (19/1/2020) dsecara online.

Kurang lebih dua jam ia mempertahankan Disertasinya di hadapan penyanggah dan promotor. Yendris akhirnya mendapat nilai cumlaude. Promotor dalam ujian tersebut, Dr. Hari Basuki Notobroto, M.Kes (FKM Unair) dan Ko-Promotor Prof. H. Kuntoro, dr., MPH., Dr.PH, sementara penyanggah antara lain Prof.Dr.Ristya Widi Endah Yani, drg., M.Kes, Prof. Ir. Fredrik L.Benu, M. Si., Ph.D (Rektor Undana), Dr. Apris A. Adu, S.Pt., M. Kes (FKM Undana),  Dr.Tri Niswati Utami, S.Pd.,M.Kes (UIN Sumut Medan), Dr.Ashari Rasjid, S.KM.,MS (Poltekkes Makassar), Dr.Rr.Soenartalina M.Si, Ir., M.Kes (FKM Unair), Prof.Dr.Ririh Yudhastuti, drh., M. Sc. (FKM Unair).

Dalam mempertahankan disertasinya, Yendris memaparkan, Provinsi NTT terdiri dari 22 kabupaten/kota dan masih memiliki 13 kabupaten tertinggal (2020-2024). Ia menambahkan, NTT secara geografis merupakan provinsi kepulauan dan juga beranda depan antar negara atau provinsi perbatasan negara di Asia Pasifik. Ada empat kabupaten di NTT yang merupakan perbatasan negara serta masih termasuk ke dalam kategori DTPK, yaitu Kabupaten Rote-Ndao yang berbatasan dengan Negara Australia dan Kabupaten Belu, Kabupaten Alor, dan Kabupaten Timor Tengah Utara dengan Negara Timor Leste. Provinsi NTT memiliki 1.192 pulau, sekitar 427 pulau di antaranya yang baru memiliki nama (Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 1 tahun 2011).

Yendris menyimpulkan beberapa hal, yakni indikator Keluarga Sehat di wilayah DTPK yang valid dan signifikan, terdiri dari: Pertama, Indikator Kesehatan Ibu dan Anak terdiri dari pemeriksaan kehamilan/pelayanan ANC, persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, imunisasi, dan keikutsertaan program KB. Kedua, Indikator gizi terdiri dari pemantauan pertumbuhan balita/kunjungan Posyandu, ketersediaan cadangan pangan (antisipasi musim paceklik), konsumsi sayur dan buah, dan kejadian Kurang Energi Kronis (KEK).  Ketiga, indikator lingkungan rumah terdiri dari kekedapan/jenis lantai rumah, ketersediaan jamban, ketersediaan air bersih, tempat pembuangan sampah sementara, dan keberadaan TOGA/Kebun. Keempat, indikator perilaku hidup sehat terdiri dari kebiasaan merokok dan kebiasaan melakukan aktifitas fisik teratur dan terukur. Kelima, indikator penyakit menular terdiri dari kejadian diare pada balita dan kejadian malaria. Keenam, indikator penyakit tidak menular terdiri dari kejadian hipertensi, kejadian Diabetes Mellitus, kejadian PJK/stroke, dan Kejadian Orang dengan Gangguan Jiwa. Ketujuh, indikator sosial-ekonomi adalah keikutsertaan JKN dan klasifikasi keluarga. Kedelapan, indikator Spasial/Geografis/Aksesibilitas adalah jarak rumah ke fasilitas kesehatan terdekat, waktu tempuh ke fasilitas kesehatan terdekat, kerawanan posisi geografis rumah, dan ketersediaan sarana/jaringan telekomunikasi di wilayah sekitar rumah.

Ia juga menyampaikan beberapa saran, diantaranya: perlu diseminasi hasil indeks yang baru kepada seluruh pemangku kepentingan yaitu pemerintah di DTPK dan masyarakat agar dapat digunakan dalam intervensi program kepada peneliti lain agar mengembangkan ke populasi yang lebih luas di wilayah DTPK yang lain. Selain itu, diperlukan sosialisasi dari aplikasi spreadsheet IKS baru yang dihasilkan hingga ke desa-desa sehingga dapat mengimplementasikan indeks keluarga sehat yang mempercepat terwujudnya kawasan RT sehat, desa sehat, dan kecamatan sehat sebagai modal terbentuknya kabupaten sehat di Provinsi NTT dan seluruh DTPK di Indonesia.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D ketika menjadi penyanggah pada ujian disertasi tersebut mengaku menyetujui argumentasi Yendris bahwa setiap wilayah memiliki tipologi wilayah, yakni DTPK dalam pengembangan keluarga sehat, sehigga setiap wilayah tentu memiliki indeks tersendiri. Prof. Fred Benu juga mempertanyakan, salah satu indeks yang menjadi banch mark untuk membuat komparasi antara satu wilayah dengan karakter terntu dengan wilayah lainnya dengan karakter yang berbeda. “Perlukah ada salah satu indeks menjadi banch mark sehingga kita bisa membuat komparasi antara satu wilayah dengan karakter tertentu dengan wilayah lainnya dengan karakter yang berbeda. ataukah indeks yang dikembangkan oleh Kemenkes tahun 2016 sudah cukup memadai dipakai untuk melakukan banck marking terhadap peningkatkan indeks kesehatan keluarga?” tanya Prof. Fred Benu.

Rektor dua periode itu juga mempromote staf pengajar FKM itu, terkait dengan pengembangan indeks dengan konfirmatory factor analisis. “Yang saya ingin mempromote saudara kenapa hanya berhenti pada hasil indeks yang dihasilkan oleh analisis CFA. Kenapa promovendus tidak berupaya untuk mengembangkan indeks ini dengan dilanjutkan dengan structural equation modeling, bagaimana pengaruh dan hubungan antara 10 variable laten dan sekian ratus variable,” tutup penyanggah, Prof. Fred Benu.

Mengakhiri ujiannya, Yendris menambahkan, setiap daerah memiliki karakteristik khas, yakni DTPK. Hal tersebut kemudian membuatnya tergelitik untuk melakukan penelitian tersebut. “Selain itu, berangkat darai sebuah pidato Presiden Jokowi bahwa kita perlu membangun negara ini dari daerah. Kita perlu bangun keadilan sosial di Indonesia. Tercatat ada 11 provinsi yang tertinggal, yang tidak seharusnya ditinggalkan, karena itu perlu kita sikapi dengan kearifan lokal,” ujarnya. Ia juga sepakat, Indonesia perlu sebuah indeks sebagai alat ukur yang di dalammnya memuat kearifan lokal.

Karena itu, ia menawarkan indeks keluarga sehat yang ikut melengkapi indeks keluarga sehat dari Kemenkes. “Saya tidak anggap indeks kesehatan keluarga yang saya tawarkan ini akan meniadakan indeks keluarga sehat oleh Kemenkes, tetapi sejak awal saya katakana ini adalah komplementer yang bisa dipakai untuk mengisi celah yang ditinggalkan indeks keluarga sehat yang dirilis Kemenkes,” paparnya sembari menambahkan catatan bahwa aspek dan indicator-indikator yang ia temukan benar-benar dari karakteristik khas di setiap wilayah daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan, yang kerap kali menjadi momok bagi pemerintah daerah maupun pusat [rfl/ds]

Comments are closed.