Undana-Pemprov NTT Komit Ciptakan Mahasiswa jadi Pengusaha Pertanian

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bercirikan lahan kering kepualauan harus dikelola secara baik untuk kemaslahatan masyarakat setempat. Karena itu, Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Pemerintah Provinsi  Nusa Tengara Timur (NTT) berkomitmen untuk menciptakan mahasiswa menjadi pengusaha pertanian.  Hal tersebut terkuak dalam Seminar Nasional Pertanian VII Fakultas Pertanian, Undana dengan Tema “Pola Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan” di lantai tiga Aula Undana Penfui, Kamis (26/11) pagi.

Hadir pada kesempatan itu, Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat, Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D, Peneliti Utama Balitbangtan Kementerian Pertanian, Prof. Hengky Novrianto, Prof HJD Lalel, Prof INW Mahayasa, Staf Khusus Gubernur NTT, Imanuel Blegur dan Pius Rengka, Kadis PKP NTT Lecky Frederick Koli, Kadis PUPR NTT Maxi Nenabu, Dekan Fakultas Pertanian Undana, Dr Damianus Adar dan puluhan dosen, pegawai serta mahasiswa.

Gubernur NTT VBL dalam materinya tentang “Pembangunan pertanian NTT mendukung ketahanan pangan nasional” mengatakan, program utama ekonomi di NTT ada pada pariwisata sebagai prime mover yang kaitan erat dengan pertanian lahan kering. Karena itu, ia meninta Undana agar melatih dan mendidik mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian agar hidup mandiri, menjadi pengusaha pertanian bukan menjadi pegawai negeri sipil.

Gubernur  menegaskan, jika zaman dulu, banyak orang sekolah pertanian dengan semangatnya untuk menjadi pegawai negeri sipil, saat ini harus diubah sehingga mahasiswa pertanian harus menjadi pengusaha pertanian.

VBL mengaku tahu jika Undana dan beberapa kampus lain di NTT memiliki jurusan pertanian tetapi jarang masyarakat mendengar ada lulusan pertanian di Undana yang sukses menjadi pengusaha pertanian.

Ia mengkritisi, banyak sekolah yang mengajarkan pertanian, tetapi jebolannya enggan menjadi petani. Karena itu, mahasiswa harus bisa membantu dirinya dengan mulai berprofesi sebagai petani, agar mereka bisa mandiri dan tidak membebani masyarakat dan pemerintah. “Banyak sekolah yang belajar pertanian tetapi petaninya masih miskin. Mahasiswa harus dikirim ke masyarakat untuk membantu diri sendiri bukan membantu masyarakat, agar mereka bisa mandiri dan nanti menjadi petani atau pengusaha pertanian sehingga kesan membantu masyarakat itu dirubah. Undana kita tahu kalau memiliki jurusan pertanian tetapi jarang kita dengar mahasiswa pertanian sukses sebagai pengusaha pertanian sehingga ini perlu diperhatikan,” tegasnya.

Menurut VBL, sudah ada beberapa Bendungan di NTT yang telah dibangun Presiden namun belum dikelola dengan baik sehingga Undana harus berkolaborasi dengan pemerintah untuk manfaatkan air yang ada di bendungan bagi pembangunan pertanian.

Ia menegaskan, mahasiswa pertanian Undana harus disiapkan dengan baik agar mandiri menjadi pengusaha pertanian. Mahasiswa harus dimotivasi untuk memiliki semangat dalam berwirausaha.

Ia mendorong Undana melalui Fakultas Pertanian untuk langsung action di lapangan dalam membangun pertanian serta melatih dan menciptakan mahasiswa yang mandiri dalam membangun pertanian di NTT.

“Satu minggu setelah seminar ini silahkan Undana bertemu dengan kadis PKP agar segera bangun koordinasi dalam membangun pertanian di NTT. Jangan kita seminar-seminar saja terus tetapi tidak ada hasil tindak lanjut yang baik,” tandasnya.

Sementara Rektor, Prof. Fred Benu dalam paparannya mengaku Undana siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk membangun pertanian lahan kering di NTT. Ia mengaku, sejak Undana didirikan 1982, telah menjadikan pertanian sebagai pola ilmiah pokok (PIP). Namun, seiring berjalannya waktu, PIP seolah hanya pada Fakultas Pertanian saja. Karena itu, sejak dirinya dipercayakan memimpin Undana, PIP kemudian diperbaharui menjadi lahan kering kepulauan. Hal tersebut agar semua disiplin ilmu bisa diintegrasikan ke dalam lahan kering. “Jadi bukan lagi pertanian lahan kering, tetapi lahan kering kepulauan. Sehingga, di Undana orang bisa belajar pertanian lahan kering kepulauan, peternakan lahan kering kepulauan, perikanan lahan kering kepulauan, juga masalah sosial, hukum, kesehatan, pendidikan lahan kering kepulauan,” terang rector dua periode itu.

Karena itu, ia mengajak masyarakat NTT, maupun Indonesia umumnya, yang memiliki keinginan belajar lahan kering kepulauan agar datang dan belajar di Undana. Prof. Fred mengaku jika telah menjajaki kerjasama dengan tiga OPD yaitu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Peternakan. Dalam waktu dekat untuk program Dinas Pertanian pada musim tanam ini sudah bisa dieksekusi, sedangkan program Dinas Kelautan dan Perikanan dan Dinas Peternakan paling lambat dieksekusi pada Januari 2021.

“Tadi pak Gubernur sudah menyampaikan terkait pembangunan pertanian lahan kering di NTT. Kami sudah bekerjasama dengan SKPD yang ada di NTT, dan dalam waktu dengan saat musim tanam ini mahasiswa kami akan arahkan untuk turun ke masyarakat sesuai kapasitasnya, kami sudah merancang kurikulum terkait hal itu sehingga 40 persen tatap muka 60 persen mahasiswa di lapangan,” tandasnya.

Ia juga medukung, serta mengapresiasi pola tanam masyarkat sesuai dengan iklim dan topografi di NTT. Salah satunya adalah pola tanam dengan menggunakan metode SALOME. “Pola tanam yang sudah sejak lama dilakukan di NTT, yakni SALOME:satu lobang rame-rame. Apa maksudnya? Petani kita menanam ubi, jagung, kacang, dan labu di dalam satu lubang tanam. Ini karena ketika ubi gagal, masih ada jagung, jika jagung gagal, masih ada kacang, jika kacang gagal, masih ada labu. (Pola tanam) ini perlu kita dukung, sebagai kearifan lokal petani kita,” ujar Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian itu.

Untuk diketahui, pada sesi kedua seminar tersebut, hadir tiga narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto, MS (Peneliti Utama Balitbangtan, Kementerian Pertanian) dengan materi “Kebijakan Pemerintah dalam Mengelola Palma di Indonesia”. Prof. Ir. H. D. J. Lalel, M. Si., Ph. D (Peneliti Undana, Kalab Bioscience Undana) dengan materi “Kondisi Lontar dan Palma pada Umumnya di NTT” dan Prof. Ir. I Nnyoman W. Mahayasa, MP (Peneliti Undana, Kalab. Lahan Kering Kepulauan, Undana) dengan materi “Pengembangan Industri Lontar di NTT”. [ael/ds]

Comments are closed.