Undana Mewisuda 712 Lulusan Pascasarjana, Profesi dan Sarjana

  • Gubernur: Ciptakan Lapangan Pekerjaan

Dalam rangka Dies Natalis ke-58, Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mewisuda 712 wisudawan, terdiri dari 44 orang bergelar Magister, 2 orang bergelar Profesi dan 666 orang bergelar Sarjana. Total alumni hingga  saat ini yang telah dihasilkan Undana sebanyak 70. 356 orang.

Gubernur NTT, Victor  B. Laiskodat ketika memberi  sambutannya meminta kepada para wisudawan agar tidak terpaku mencari pekerjaan, namun berupaya menciptakan lapangan pekerjaan. Ia mengapresiasi, Undana meski dalam kondisi sulit pandemi covid-19, namun mampu menggelar wisuda secara daring. “Terima kasih kepada Undana, karena lewat lembaga ini telah memberikan kontribusi bagi pembangunan di NTT,” ujarnya . Ia mengaku, sarjana merupakan kebanggaan setiap orang, karena memiliki karakter dan intelektual. Kendati demikian, kata dia, kecerdasan tersebut harus memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain. “Kalau urus diri sendiri saja tidak mampu, bahkan urus diri saja tidak mampu itu tandanya sarjana bodoh itu tidak layak dapat gelar. Karena yang bersangkuta sudah harus mampu menolong dirinya sendiri termasuk menolong orang lain,” tandasnya.

Ia juga meminta para sarjana agar menciptakan lapangan pekerjaan. Khusus bagi sarjana pertanian, perikanan dan peternakan, gubernur meminta agar menerapkan ilmunya untuk menciptakan lapangan kerja. “Saya berharap sarjana peternakan, kalau mau diwisuda di Undana, harus memiliki ternak babi, atau kambing masing-masing 50 ekor, atau sapi sebanyak 25 ekor,” ujarnya sambil meminta Rektor Undana, Prof. Fred Benu agar memberlakukan hal itu kepada para mahasiswa yang hendak diwisuda.

Ia juga mengapresiasi lulusan Fakultas Kedokteran Undana, yang memiliki kualitas baik di dunia kerja. Karena itu, ia meminta kerjasama konkrit antara Undana dan Pemprov NTT agar para mahasiswa bisa menciptakan lapangan kerja sendiri setelah diwisuda.

Rektor, Prof. Fred Benu saat memberikan penghargaan kepada para wisudawan terbaik.

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D dalam sambutannya mengaku usia Undana, saat ini sudah tak muda lagi. Kendati demikian , jika dibandingkan dengan institusi sejenis terkemuka di dunia, usia ini masih sangat mudah belia. “Universitas tertua di dunia yang terus beroperasi sejak berdiri adalah University of Bologna, 1888. Muda atau tua, tentu saja tidak bisa diukur hanya dengan usia.  Melainkan dari kontribusi yang diberikan bagi kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia mengaku, wisuda merupakan aaat-satat membahagiakan, tidak saja bagi orangtua, tetapi bagi civitas Undana.Wisuda menandakan para wisudawan telah siap memasujki dunia nyata, yang penuh dengan pilihan. “Saya percaya setelah melalui gemblengan almamater  Undana, wisudawan akan mempu membuat pilihan tepat dan tepat untuk masa depan yang penuh dengan pilihan,” ungkapnya.

Wisuda Undana, khususnya Dies Natalis ke-58 kali ini masih dilaksanakan dalam suasana covid-19. Sehingga, sampai saat ini pula proses perkuliahan, seminar dan ujian masih dilaksanakan secara daring.

Rektor mengaku, posisi Undana saat ini tidak tepat jika disebut kampus yang berada di daerah pelosok atau pinggiran. “Dalam kaitan dengan istilah ini sangat tidak tepat dalam hubungan dengan negara tentangga dan strategi geo-politik regionalm maupun global. Dalam kedua kontekls tersebut, kawasan dimana Undana terletak sesungguhnya merupakan kawasan garis depan,” tegasnya.

Dijelaskan, para wisudawan kali ini adalah mereka yang lulus melalui ujian Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang dilakukan secara daring. Hal ini telah melahirkan kisah tersendiri, di mana yang belum terbiasa mengunakan IPTEK, mau tidak mau harus belajar menggunakannya.

“Kami menyikapi covid 19 dengan cara berbeda. Undana berlokasi di pinggiran tetapi kami tidak mau terpingggirkan. Dari pada terus mengeluh dan banyak mengkritik, kami berupaya semampu kami untuk mengubah  posisi pinggiran kami menjadi garis depan,” katanya.

Pihaknya mengaku memanfaatkan posisi geografis dan geo-politik untuk menjadikan Undana garis depan. “Kami memamnfaatkan sisi geografis di garis depan ini untuk semakin mempererat kolaborasi dengan universitas mitra kami di dua negaran tetangga yaitu Australia dan Timor Leste. Itu menjadikan kami menjadi garis depan antara lain dengan menjadikan national vocal point. Dalam mengevaluasi dampak regional pandemic covid- 19 terhadap sektor pertanian lahan kering,” tambahnya. Undana membangun mindset garis depan ini, jelas Rektor, bukan hanya sejak pandemic ini, melainkan sejak menjadikan lahan kering kepulauan sebagai PIP dan pusat unggulan.  Pada kesempatan itu, ia juga mengajak para wisudawan untuk menciptakan pekerjaan, bukan untuk mencari pekerjaan. [rfl/ds]

Comments are closed.