Rektor Resmikan Empat Gedung FKIP Undana

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D meresmikan empat gedung sekaligus di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Empat gedung tersebut yakni gedung dekanat, aula, workshop pendidikan teknik dan micro teaching.

Sebelum peresmian dilakukan, syukuran empat gedung tersebut dipimpin rohaniawan Kristen Protestan Pdt. Yandi Manobe, S.Th dan syafaat oleh rohaniawan Kristen Katolik Romo Yonas Kamlasi. Kemudian dilanjutkan dengan penyucian gedung oleh rohaniawan Hindu Pdt. I Gusti Putra Kusuma dan doa penutup oleh rohaniawan Islam Ustaz Pobo Musariyokerto.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti masing-masing gedung oleh Rektor Prof. Fred di Aula FKIP, Jumat (23/4/2021). Turut menyaksikan, Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik Dr. Maxs U. E. Sanam, M. Sc, Warek Bidang Kemahasiswaan Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc, Warek Bidang Kerjasama Ir. I Wayan Mudita, Ph. D, Dekan FKIP Dr. Malkisedek Taneo, M. Pd, para rohaniawan, sejumlah pimpinan fakultas dan pegawai FKIP Undana.

Rektor Prof. Fred dalam sambutannya mengatakan, tahun 2021 ini pihaknya sudah diundang dua kali untuk meresmikan gedung dekanat di Undana. Sebelumnya rektor juga telah meresmikan gedung dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Menurut rektor, persemian sejumlah gedung baru di Undana, harus sejalan dengan kinerja pelayanan; baik dalam pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Rektor mengisahkan, pembangunan empat gedung di FKIP itu tidak saja menggunakan DIPA FKIP, tetapi juga menggunakan PNBP Undana. Karena itu, fasilitas baru tersebut harus dimanfaatkan secara baik dan bertanggungjawab.

Ia mengatakan, kondisi sejumlah gedung di Undana saat ini mengalami kerusakan. Sehingga pihak Undana saat ini tengah menunggu respon dari pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian PUPR, guna memperbaiki sejumlah kerusakan di Undana.

Dekan FKIP Undana, Dr. Malkisedek Taneo, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan syukur kepada Tuhan atas pembangunan empat gedung tersebut. Pihaknya turut menyampaikan terima kasih kepada Rektor Undana, Prof. Fred yang mengizinkan pelaksanaan pembangunan tersebut. Selain itu, Dr. Malkisedek meyampaikan terima kasih kepada sejumlah inisiator pembangunan empat gedung tersebut, diantaranya adalah mantan Dekan FKIP Dr. Markus Dewa dan Dr. Petrus Ly. Menurutnya, pembangunan gedung tersebut merupakan buah dari pergumulan dan perjuangan yang amat panjang para pimpinan FKIP Undana.

Gedung aula, jelas Dr. Malkiesedek, dibangun karena selama ini FKIP tidak memiliki ruang yang representatif untuk menampung 180-an dosen. Begitu pun dengan kegiatan yang melibatkan mahasiswa.   Untuk itu, ia berharap, empat gedung yang diresmikan tersebut bisa menunjang pekerjaan pimpinan, pegawai, dosen maupun mahasiswa di FKIP.

Khusus untuk ruang micro teaching, ungkap Dekan FKIP, sebagai Lembaga Penyedia Tenaga Keguruan (LPTK), FKIP Undana harus menyiapkan gedung tersebut agar bisa menyiapkan calon guru untuk bersaing di dunia kerja. “Sehingga dengan gedung micro teaching itu, adik-adik bisa latihan mengajar dan dosen bisa kembangkan diri. Ada pengalaman profesional baik mahasiswa dan dosen,” ujarnya.

Sementara Pdt. Yandi Manobe, S.Th dalam refleksi dan doanya yang terambil dalam Kitab Yeheskiel 37:14 mengisahkan kehidupan bangsa Israel ketika dipimpin beberapa raja mulai dari Saul hingga Daud dan Samuel. Pdt. Yandi menceritakan, ketika Raja Salomo meninggal, timbul perang saudara yang menghancurkan Israel. Hal yang menarik adalah, ketika Bait Allah di Yerusalem dihancurkan. Pdt. Yandi mewartakan bahwa kerusakan yang terjadi kala itu, yakni kerusakan sosial, politik, dan ekonomi. Ketika bangsa Israel kembali ke Yerusalem, cerita Pdt. Yandi, salah satu hal penting yang dilakukan adalah membangun kembali Bait Allah, karena menjadi tempat belajar etika dan moral. Sebab, jika tidak ada etika dan moral maka akan menghancurkan keluarga, bahkan sebuah bangsa. Yeheskiel, sebagaimana diceritakan Pdt. Yandi, sebagai nabi yang ada pembuangan bernubuat untuk menghidupkan kembali bangsa Israel.

Karena itu, Pdt. Yandi menyerukan, meskipun dalam badai, setiap umat Tuhan harus tetap bersyukur.  Sebab, ketika Tuhan ada, bukan berarti hidup tanpa persoalan. “Ketika Tuhan katakan jangan Takut, tidak bermaksud meniadakan (rasa) takut, tetapi kenapa jangan takut, sebab bersama -sama dengan Tuhan, kita akan melewati semuanya sampai selesai. Tuhan akan menyertai kita. Jangan takut, sebab tulangg-tulang pun akan dihidupkan kembali,” ujar Pdt. Yandi mengakhiri khotbahnya (rfl)

Comments are closed.