PPS Undana Gelar International Conference

Program Pascasarjana (PPS) Universitas kembali menggelar konfernsi internasional dengan tema “Sustainable Development in Archipelagic Areas Meeting COVID 19 Pandemi Challenges”. Konfernsi yang dilaksanakan secara daring di Hotel Swis Belinn Kristal, Rabu (11/11/2020) tersebut membahas berbagai isu dari disiplin ilmu di wilayah lahan kering kepulauan.

Direktur PPS Undana, Prof. Drs. Mangadas Lumban Gaol, M.Si ketika membuka kegiatan tersebut mengatakan, konferensi internasional tersebut sudah dilaksanakan dua kali sebelumnya. Dan saat ini adalah yang ke tiga. Ia mengaku, tema yang diangkat tersebut sudah sesuai dengan kondisi NTT, bahkan Indonesia pada umumnya. Karena itu, ia juga memuji panitia penyelenggara yang telah melaksanakan kegiatan tersebut. Ia juga menyapa sekaligus menyampaikan terima kasih kepada para pakar yang bersedia menjadi narasumber dalam konferensi itu. Untuk itu, ia mengajak para peserta yang hadir dari berbagai latar belakang, baik dosen, praktisi, maupun mahasiswa agar mengikuti konferensi tersebut dengan baik.

Ketua Panitia Konferensi Internasional, Ir. Philipi de Rossari, Ph. D dalam laporannya  mengaku sangat senang mengundang seluruh peserta, terutama para narasumber untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam konferensi itu. Ia mengatakan, dalam masa pandemic seperti saat ini, isu pembangunan berkelanjutan sangat relevan untuk dibahas. Karena itu, konferensi tersebut berupaya membahas sejumlah persoalan dari berbagai disiplin ilmu. Dirinya percaya diskusi tersebut sangat penting bagaimana respon para akademisi terhadap pembangunan berkelanjutan bagi bangsa, terutama dalam masa pandemic.  Ia berharap konferensi tersebut bisa menjadi ajang berbagi ilmu pengetahuan, serta sebagai upaya menemukan solusi atas sejumlah persoalan, agar dapat menjadi acuan dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan.

Pengajar pada Australian National University, Dr. Christian Shepherd dalam paparannya mengggambarkan keterlibatannya dalam penelitian terkait dengan etnografi, juga pertanian di Pulau Timor. Dengan melihat kondisi Indonesia, khususnya NTT yang merupakan wilayah lahan kering kepualauan, maka NTT membutuhkan revolusi pertanian. Bahkan Indonesia pada umumnya perlu adanya revolusi pertanian. Karena itu, apa yang dilakukan pemertintah saat ini untuk menerapkan irigasi tetes di wilayah lahan kering adalah sebuah keniscayaan. Apalagi di tengah pandemic seperti saat ini, pangan yang cocok di lahan kering perlu di kembangkan. Untuk itu, ia juga meminta Indonesia agar bisa mengantisipasi dampak adanya pandemic saat ini. Salah satunya adalah dengan meningkatkan sumber daya dan iptek bagi generasi saat ini.

Tak hanya pandemic, ia juga menyayangkan masifnya human trafficking (perdagangan orang-red) di Indonesia, utmanya di NTT. Padahal, kata dia, Indonesia sebagai negara berkembang seharusnya sudah mengantisipasi adanya kejahatan luar biasa tersebut. Kendati demikian, ia juga memuji adanya upaya dan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam memberantas perdagangan orang tersebut. Karena itu, upaya tersebut perlu didukung oleh masyarakat maupun akademisi di Indonesia.  “Untuk mengatasi masalah civid di Indonesia, saya kira Pemerintah Indonesia sudah melakukan hal yang benar, yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan. Tentu, masyarakat harus mengikuti protokol tersebut. Sebab, mengikuti protokol adalah hal yang baik,” ujarnya dalam Bahasa Inggris.

Pengajar pada PPS Universitas Marwadewa, Prof. Dr. Aron M. Mbete dalam materinya mengenai Potensi Lokal untuk Ekowisata Global mencoba merefleksikan pandemic covid tersebut dari sisi ekolinguistik. Guru Besar asal NTT ini menungkapkan, pandemic masih belum jelas kapan berakhir,  tetapi sebagai masyarakat harus meramu tekad baru untuk hidup dalam kesetiakawanan sosial.

Kesadaran sebagai makhluk ekologis sejatinya bergantung pada kekuatan adikodrati. Reflekai tersebut, kata Prof. Aron, untuk memahami gelisahnya hidup ini. Refleksi atasa ruang yang tercemaar, berbagai fenomena termasuk pandemi covid.

Untuk itu, menurutnya, manusia perlu kesalehan ekologis. Membaca tanda alam dan zaman adalah baik. Menyadari diri adalah langkah arif bahwa pandemik akan berakhir pada saatnya, kendati manusia harus beradptasi dan berdamai dengannnya.  Ia meminta, penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bisa memecahkan masalah. Karena itu adalah langkah bijak untuk tetap bergerak maju. Menurutnya kesadaran, pertobatan demi kesalehan ekologi sangat penting. “Manusia hidup jika lingkungan bersih rohani dan ragawi,” tuturnya.

Sementara Prof. Dr. Felix Tans, M.Pd dalam materinya tentang “Teaching during the Covid-19” mengawali dengan mengemukakan apa yang dikatakan Filsuf Albert Einstein “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  Atau dalam bahasa, setidaknya diartikan semua orang jenius. Tetapi jika anda menilai ikan dari kemampuanny memanjat pohon, maka sepanjang hidupnya ia akan percaya bahwa itu bodoh.

Dari dasar pemahaman itu, Prof . Felix mengungkapkan bahwa pembelajaran sebagai proses menjadi baik dari hari ke hari. Sedangkan mengajar berarti mentransfer pengetahuan, memfasilitasi pembelajaran. Karena itu, guru harus mempermudah siswa untuk belajar. Menurutnya, jika guru tidak efektif dalam belajar, maka siswa (mahasiswa) pun tidak akan efektif.

Di tengah panemi saat ini, guru lebih dituntut kreatif dan efektif dalam belajar. Jangan sampai, siswa merasa tidak nyaman dan stress dalam belajar. Pasalnya, ada bukti bahwa terdapat siswa yang bunuh diri akibat belajar online.

Terkait dengan pernyataan  Einstein sebelumnya, Prof. Felix menegaskan, saat ini guru di seantero Indonesia mengajar berdasarkan kurikulum yang telah didesain di Jakarta. Dan itu bersifat sentralistik. Karena itu, ia mensinyalir umumnya guru mengajar, tidak lagi relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.

Mengajar saat ini, tegas Pakar Lingustik Undana ini, harus sesuai talenta dan potensi siswa. Sebab, masing-masing siswa dengan potensi dan karakteristik yang berbeda. Ibaratnya seperti seblumnya, jangan sampai guru memaksa ikan untuk terbang dan burung berenang.

Untuk itu, menurutnya, belajar saat ini tidak seharusnya mempelajari banyak hal. Sudah saatnya generasi muda dididik sesuai dengan talenta, kebutuhan dan ketertarikan mereka. Pada kesempatan itu, ia meminta agar pemerintah memperhatikan delapan jenis kemampuan majemuk (Multiple Intelegencies) yang cocok dijadikan alternatif bagi pilihan ketertarikan dan kebutuhan siswa, antara lain: kecerdasan verbal (linguistic), matematis-logis, spasial,  kinestetik, musikal, interpersonal,  intrapersonal dan natural. [rfl/ds]

Comments are closed.