Menjadi Direktur PPs Undana, Sebuah Tanggung Jawab Besar

Menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) agaknya sedikit berbeda dengan jabatan lain di lingkungan Undana. Betapa tidak, PPs Undana khusus mengelola dan menyelenggarakan pendidikan Program Magister dan Program Doktor. “Menjadi Direktur PPs Undana, adalah Sebuah Tanggung Jawab Besar, walaupun di dalamnya melekat juga sebuah kekuasaan yang besar: great power comes great responsibility,” ungkap Prof. Tans Feliks saat dihubungi wartawan media ini.

“Terus terang, pada awalnya saya merasa ragu  apakah saya mampu atau tidak mengemban tugas besar sebagai Direktur Program Pascasarjana, Undana, itu.    Apalagi pada saat dunia dilanda Pandemik Covid-2019.  Bekerja di/dari rumah tidak selalu bisa membuat kita total karena kehilangan kontak sosial yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja yang normal.  Namun, setelah mempertimbangkan secara matang kepercayaan Rektor  Undana kepada saya, saya akhirnya merasa bahwa jika saya melakukan yang terbaik selaku Direktur Program Pascasarjana, saya pasti bisa.  Saya semakin yakin akan hal itu karena saya tahu saya tidak akan berjalan sendirian: ada Pak Rektor sendiri yang tentu siap membantu jika saya membutuhkan bantuan; juga ada para Wakil Rektor  dan pimpinan top pada level rektorat; dan, di PPs sendiri ada para Wakil Direktur; para Ketua Program Studi;  tenaga pendidik  dengan reputasi besar dan tenaga kependidikan yang relatif mumpuni.  Artinya bersama saya ada tim yang kuat, yang saya yakin, siap bekerja keras dan cerdas untuk membuat  PPs Undana menjadi lebih hebat ke depan,” kata Pria asal Flores ini yang mengaku memulai kariernya sebagai dosen di Undana pada tahun 1988.

Selain itu, katanya, dengan sarana dan prasarana yang ada, termasuk akses Internet yang terbuka satu kali dua puluh empat jam, serta jaringan kerja sama yang selama ini sudah terbangun dengan baik secara lokal, nasional, dan, bahkan, internasional, oleh Bapak Rektor  sekarang dan para rektor sebelumnya,  juga oleh para Direktur PPs sebelumnya, saya sangat yakin, PPs Undana  ke depan akan menjadi lebih hebat, dan karena itu, menjadi lebih berdaya guna dalam meningkatkan mutu sumber daya manusianya sendiri dan, melalui SDM-nya sendiri yang bermutu, dalam meningkatkan mutu SDM dan alam/lingkungan NTT secara khusus, Indonesia secara umum.  “Jadi, awalnya saya merasa was-was, tetapi sekarang  tidak lagi.  Dengan bekerja secara total, all out, dengan bantuan para Pimpinan Undana secara umum, PPs secara khusus, dan dengan menggunakan segala sarana dan prasarana yang ada secara efektif untuk kebaikan  PPs dan setiap pemangku kepentingannya,   mestinya tidak ada alasan  untuk ragu-ragu dalam menatap dan membangun masa masa depan yang jauh lebih baik bagi PPs Undana dan beyond.,” ungkap mantan Kepro Linguistik PPs Undana.

Ia menambahkan, dengan pandangan seperti itu, dengan hormat saya mohon Rektor untuk menilai saya secara  objektif dan terus-menerus.  Saya juga akan menilai diri saya sendiri.  Jika tidak mampu,  saya akan  mundur.  Undana bisa mencari orang yang jauh lebih mampu untuk menjalankan tugas itu;  di Undana ini ada banyak orang yang mampu, cerdas, yang bisa bekerja keras, dan total untuk PPs yang lebih hebat.

Dalam kiprahnya, dosen senior FKIP Undana yang mengasuh mata kuliah Bahasa Inggris pernah meraih berbagai sertifikat antara lain; S-1 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari FKIP, Undana (1988); “Master of Education” dari  “Graduate School of Education,” Universitas La Trobe,  Australia (1994);  “Ph.D. in  Language Education”, Universitas La Trobe, Australia (1999).  Sertifikat Dosen Profesional /Profersor (2009) serta TOT untuk “Academic Journal Writing” dari Kedutaan Besar Australia” di Indonesia (2012).

Selain itu suami dari Maria Yovita Yasinta Tanggal, S.Pd ini pun pernah menerbitkan buku ber-ISBN antara “Biliteracy: Teaching, Learning, and Reserach Insights” (2008.  Kupang:  Gita Kasih);  “Writing: An Introduction” (2014.   Kupang: Lima Bintang); and  “On Teaching that Works” (2020.  Ky Publications: India.  Itu kumpulan artikel ilmiah bersama Dr. Agustinus Semiun, Dr. Basri K., Hilda M. Nalley, dan Patrisius Warduna).

Sejak menjadi dosen di Undana, ayah dari putri semata wayang, Maria Grasia Famili telah menghasilkan 19 judul penelitian mandiri termasuk yang terakhir adalah penelilitian guru besar dalam bidang pendidikan bahasa Inggris (2018).  Pada tahun 2008 s/d 2009 saya melakukan penelitian tentang The Teaching and Learning of English Writing in the USA: A Case Study of A Primary School di New York.  Itu  atas biaya Yayasan Fulbright, AS. Dalam rangka S-3 pada tahun 1996-1999, melakukan penelitian dengan judul: “EFL Writing of Indonesian Grade 11 Students: An Inquiry into Becoming a Writer” (Graduate School of Education, La Trobe University, 1999).

Penghargaan yang pernah diterima Prof. Tans Feliks antara lain  “Penghargaan dari The J. William Fulbright Foreign Scholarship Board and the Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department  of  State pada May 2009 di Washington, DC, atas penyelesaian dengan baik Fulbright Schlarship Program. Dan “Pemenang II “Creative Writing Competition”  dalam rangka  “Asia Creative Writing Conference”  dengan Tema “The Role of Local Wisdom in Shaping Identity” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya pada 21-22 Maret, 2014.

Ia menuturkan, pengalaman jabatan yang pernah diemban diantaranya, “2001-2005: Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Undana. “2006-2007: Ketua UPT Perpustakaan Undana2007-2008: “ Ketua Porgram Studi Magister Ilmu Linguistik, PPs Undana 2015-2020: “Ketua Program Studi Magister Ilmu Linnguistik, PPs Undana 2020-2020. “Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris PPs Undana.

Saat ditanya apa program kerja prioritas kedepan, ia mengaku   berupaya meningkatan nilai akreditasi beberapa program studi di PPs Undana  dari C ke B; dari B ke A; Membuka program studi baru pada level S-2 dan S-3 untuk membuat PPs semakin kuat di NTT/Indonesia Timur secara khusus, Indonesia secara umum. Meningkatkan  mutu dan jumlah bukan hanya  publikasi ilmiah dan jurnal ilmiah, tetapi juga publikasi ilmiah populer dan “creative writing” lainnya di lingkungan PPs, baik oleh dosen maupun mahasiswa, serta meningkatkan mutu/isi WEB PPs untuk mencakup bukan hanya sembilan kriteria akreditasi setiap program studi setiap tahun, tetapi juga menyangkut ketersediaan informasi akurat, aktual, dan bermutu untuk konsumsi publik lokal, nasional, dan global sekaligus. [ds]

Comments are closed.