Dokter Diminta Baktikan Hidupnya Bukan Profesi

  • Delapan Dokter Baru Undana Dilantik

Sebanyak delapan dokter baru Universitas Nusa Cendana (Undana) dilantik dan diambil sumpah pada acara pelantikan yang digelar hybrid (on-line dan on-side) di Aula Rektorat lantai tiga Undana Penfui, Jumat (19/2/2020). Delapan dokter baru tersebut yakni dr. Asarela Alberto Y.Ballo, S.Ked, dr. Nana Angelia Seran, S.Ked, dr. Christine Dupe, S.Ked, dr. Grace Septi Yudanti Kerihi, S.Ked, dr. Ery Yuliando Nepa Bureni, S.Ked, dr. Eunike H. Fanggidae, S.Ked, dr. Sri Suryanti Ningsih Putri Kusumo, S.Ked dan dr. Siti Khadija, S.Ked.

Dekan FK Undana, dr. S. M. J. Koamesah, MMR., MMPK, FISPH., FISCM dalam sambutannya meminta para dokter baru agar tidak saja membaktikan profesinya, tetapi membaktikan hidupnya bagi masyarakat NTT, maupun Indonesia pada umumnya.

Dikatakan dr. Bobby, pelantikan online tersebut bukan merupakan sesuatu yang aneh, tetapi merupakan sebuah tuntutan perubahan, sehingga meskipun dilaksanakan secara online, namun tidak mengurangi makna dan arti pelantikan dan pengambilan sumpah. “Tetapi ini tidak mengurangi makna dan arti dari pengambilan sumpah dan pelantikan dokter, karena para dokter sudah syah dan diakui secara profesi,” ujarnya.

Menurutnya, selama 13 tahun Fakultas Kedokteran Undana berdiri, pihaknya selalu berjuang agar di setiap periode FK tetap meluluskan dokter baru. Dengan dilantiknya delapan orang dokter baru, maka saat ini terdapat 337 orang dokter lulusan Undana. “Dan mereka tersebar di seluruh NTT dan Indonesia. Banyak yang mengambil studi spesialis dan di luar negeri. Jadi, saya sangat yakin mutuh Fakultas Kedokteran Undana tidak usah lagi diragukan. Kita punya moto, sekali dibuka tetap terbuka. Kita tetap mempertahankan dan melanjutkan Fakultas Kedokteran ini. Dan, saat ini kita punya satu moto lagi, yaitu bergerak cepat meraih prestasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, moto tersebut merupakan cara FK Undana untuk segera menyusul Fakultas Kedokteran lainnya di Indonesia. “Karena itu, saya ajak teman-teman di fakultas, kalau Fakultas Kedokteran lain bergerak satu langkah, maka kita minimal bergerak 10 langkah supaya kita akan cepat menyusul,” paparnya.

Pihaknya menjelaskan, sumpah dokter memang harus diucapkan semua lulusan baru, karena para dokter baru secara pribadi menyatakan komitmennya untuk menjalani profesi dokter. Karena itu, menurut dr. Bobby, ada tiga poin paling penting dalam sumpah dokter, yakni: Pertama, dokter akan membaktikan hidupnya. “Jadi bukan membaktikan profesi dokter, karena profesi terkait dengan pelayanan kemanusiaan, tetapi dokter membaktikan hidupnya. Jika di aspek Gereja terdapat hamba Tuhan yang membaktikan hidupnya, maka di dunia kedokteran, para dokter juga harus membaktikan hidupnya. “Kedua, saya akan menjalankan profesi dokter dengan cara yang terhormat. Jadi memang profesi kita saat ini sudah banyak tercemar. Banyak dikritik masyarakat bahwa dokter kerja kalau ada uang,” katanya.

Ketiga, dokter akan memelihara martabatnya. “Tolong diingat baik-baik dan diterpkan. Buktikan di masyarakat bahwa saya dokter yang berkualitas. Dokter bukan saja melayani sesama tetapi melayani Tuhan. Itulah dokter yang bermartabat,” ungkap dr. Bobby.

Pada kesempatan terebut, ia juga meminta kepada para dokter baru agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Hal terebut karena saat ini dunia masih dilanda pandemic covid-19. “Karena kalau kita tidak bisa sesuaikan diri dengan covid-19, maka kita akan tertinggal. Terus terang, dalam kurikulum pendidikan, kami belum didik dokter yang bisa survive menghadapi covid-19, karena pandemic ini datang tiba-tiba. Tetapi kita tidak boleh menyerah, cepat belajar dan mengantisipasi covid-19 yang saat ini masih melanda dunia,” harapnya.

Sementara itu, perwakilan orangtua dokter baru Merry Rinandez Cristina Messak, S.Kom, MM dalam sambutannya mengatakan, momen pelantikan dan pengambilan sumpah merupakan hari yang paling dinantikan para orangtua yang mendukung anaknya menjadi dokter. Menurut Merry, setiap orangtua memiliki alasan tersendiri mendorong anak mereka menjadi dokter. Namun demikian, kata dia, alasan menjadikan anak menjadi dokter harus bermuara pada sumpah yang diikrarkan para dokter baru.

Menurutnya, konon dalam perang terbuka, para prajurit TNI berada di garis depan, namun kini dokter, perawat maupun para tenaga medis telah menjadi garda terdepan dan menjadi pahlawan bangsa. “Kami orangtua merasa bersyukur, hari ini telah melahirkn delapan orang pahlawan bagi bangsa ini. Mereka telah siap mengabdi sesuai sumph yang telah diikrarkan,” ujarnya.

Perwakilan dokter baru, dr. Asarela Alberto Y. Ballo, S. Ked dalam pesan dan kesannya menyampaikan ungkapan syukurnya kepada Tuhan yang maha kuasa. “Syukur kepada Tuhan Yesus atas berkat dan anugerahnya kepada kita semu. Selamat kepada rekan-rekan sejawat, atas pengambilan sumpah dan pelantikan. Berkat dan rahmat Tuhan Yesus, kita bisa hadir dan melaksanakan pelantikan ini,” ungkapnya.

Asarela mengaku, sejak masuk tahun 2014 lalu, delapan dokter baru memiliki mimpi dan tujuan yang sama menjadi seorang dokter, bersama dengan 70 teman pada FK Undana angkatan ke tujuh. “Ada suka dan duka dalam perjalanan, ada rintangan dan sangat banyak cobaan, tetapi ada berkat-berkat yang melimpah dari Tuhan saat kita berproses. Salah satunya kita lulus dan dilantik. Itu semua berkat Tuhan,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada orangtua, karena menjadi dokter, keluarga secara otomatis harus berkorban secara moril dan materil. Selain itu, ia juga menyapaikan terima kasih kepada para guru dan dosen atas didikan dan bimbingan dalam menempuh kuliah hingga dilantik. Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor Undana, Prof. Fred Benu yang mengizinkan para dokter mengkikuti kuliah hingga dilantik.

Di akhir kesan dan pesannya, ia mengajak rekan sejawat untuk merangkul orangtua yang telah berjerih lelah mendukung proses menjadi seorang dokter. “Kita tidak bisa balas jasa kedua orangtua dan guru-guru kita. Hanya dengan mengabdikan diri kita, dengan jiwa melayani di tengah masyarakat, kita dapat menghormati perjuangan kedua orangtua kita dan para guru,” pungkasnya. [rfl/ds]

Comments are closed.