Dekan FKH Lantik 15 Dokter Hewan Undana

  • Ketum PDHI: Negara Masih Butuh Kalian

Sebanyak 15 dokter hewan Fakultas Kedokteran (FKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) diambil sumpah dan dilantik Dekan FKH, Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si pada acara pengambilan sumpah dan pelantikan dokter hewan periode VIII FKH Undana, Rabu (17/3/2021) di Aula Lantai Tiga, Rektorat Undana Penfui.

Mereka yang diambil sumpah dan dan dilantik adalah drh. Wenci Lidia Bana, drh. Yovita F. Brian Seran, drh. Karolina Trivona Diaz, drh. Romula Anatus Jemadi, drh. Maria Kikementina Junersi, drh. Winda Atika Tosi, drh. Mersyal Magdalena Salo, drh. Olivia Maria Ujan, drh. Lidya Aprilia Tjandring, drh. Lelita Antoh, drh. Ade Mesakh Seo, drh. Jems Graham Bell, drh. Alvin Haryanto Sunbanu, drh. Edwin Krisnandar Ndawa Lu dan drh. Leonardo Agung Egho Seme.

Ketua Umum Perhimpunan  Dokter Hewan Indonesia (Ketum-PDHI), Dr. drh. Muhammad Munawaro, MM dalam sambutannya menegaskan negara masih membutuhkan dokter hewan di Indonesia. “Tugas apa yang harus kita lakukan setelah lulus sebagai dokter hewan, yang paling utama adalah negara kita masih sangat membutuhkan anda sekalian terutama dalam membantu pemerintah mencegah penyakit rabies maupun penyakit zoonosis lainnya, karena hanya kita yang bisa melakukan kontribusi kepada pemerintah,” jelasnya.

Karena itu, Munawar menyampaikan apresiasi kepada pimpinan FKH Undana yang mampu menghadirkan dokter hewan dengan kualitas baik kepada bangsa dan negara.  Pihaknya meminta orangtua/wali agar selalu memberi motivasi kepada para dokter hewan untuk mengabdikan diri dan berkarya bagi nusa dan bangsa, karena hingga saat ini Indonesia masih sangat membutuhkan tenaga dokter hewan. “Berilah dorongan agar mereka bisa baktikan keilmuan mereka di seluruh wilayah Indonesia,” tandas Munawar.

Kepada dokter hewan baru, pihaknya memberi tiga pesan, yakni: Pertama, berkaitan dengan kesejahteraan hewan. Menurut Munawar, dokter hewan harus memberikan informasi kepada masyarakat, apa itu kesejahteraan dan kesehatan hewan. Kedua, profesionalisme. Menurut Ketua PDHI, seorang dokter hewan harus bisa beri contoh kepada masyarakat bahwa dirinya professional. “Artinya anda paham terhadap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka melakukan pelayanan kesehatan hewan. Jadi, anda harus memahami peraturan pemerintah,” imbuhnya.

 

Dua perwakilan dokter hewan baru Undana ketika mengangkat sumpah disaksikan dekan FKH, Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si, Warek I, Dr. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, para Wadek FKH & rohaniawan.

Pihaknya menambahkan, dalam melakukan praktek, dokter hewan wajib memiliki surat izin praktek. “Jangan sekali-kali tidak punya izin, ini menunjukan anda tidak professional dan tidak paham aturan,” ujarnya. Ketiga, dokter hewan juga diingatkan agar tidak berhenti belajar, karena bisa saja tidak banyak ilmu yang dipelajari saat kuliah. PDHI, ungkap Munawar, telah memberi fasilitas  kepada seluruh anggota untuk pengembangan diri secara berkelanjutan. “Meski saat ini kita sedang di masa pandemic, tetapi seminar dan webminar banyak dilaksanakan tiap minggu atau bulan,” ujarnya. Munawar juga sangat mendukung dokter baru yang ingin melanjutkan studi hingga jenjang S-2 dan S-3. Pasalnya saat ini, dokter hewan di Indonesia masih sangat sedikit jika dibanding negara lain.

Pihaknya juga mengajak dokter hewan baru agar segera bergabung ke PDHI. Sebab, saat ini tidak susah menjadi anggota PDHI. Karena itu, Munawar berjanj akan memberi akses bagi dokter baru yang ingin mendaftarkan diri. “Saya siap layani anda sekalian. Jika dapat surat, maka akan menjadi syarat sertifikat veteriner untuk melamar pekerjaan atau syarat surat izin praktek,” jelasnya. Munawar menyebut, setiap tahun ada 1000 dokter hewan yang dihasilkan perguruan tinggi di Indonesia. Padahal dalam hitungan PDHI, Indonesia masih membutuhkan 70 ribu dokter hewan.

Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Maxs U. E. Sanam, M.Sc dalam sambutannya mewakili Rektor Undana, Prof. Fred menyampaikan proficiat kepada para dokter hewan baru yang diambil sumpah dan dilantik. “Saya mewakili Rektor Undana, mohon maaf jika kebahagiaan yang harus dirayakan bersama tidak terwujud, tetapi harus dimaklumi, karena tentunya demi kesehatan kita semua,” imbuhnya. Ia mengatakan, sesuai arahan Mendikbud dan juga Rektor Undana, kesehatan dan keamanan semua civitas menjadi hal paling utama. Dr. Maxs mengajak, semua pihak bersyukur, karena pandemic ini menghadirkan “blessing in disguise”. Sebab, kegiatan perkuliahan digital bisa dilaksanakan saat ini. Padahal berdasarkan roadmap, pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan tahun-tahun mendatang.

“Pada mulanya semua merasa bingung, tetapi saat ini semua sudah terbiasa. Dosen yang semulanya tidak tahu sekarang sudah biasa, hampir 95 persen dosen sudah mampu melaksanakan pembelajaran online,” ujarnya. Pihaknya juga melarang adanya stigmatisasi output pendidikan, karena ada yang menyebut lulusan atau angkatan covid. Sebab, menurutnya tidak ada stigmatitasi dalam meluluskan mahasiswa.

Pihaknya merasa bersyukur, era digitalisasi ini mempercepat dunia pendidikan melakukan pembelajaran daring. Dengan transformasi tersebut, saat ini FKH bisa mengundang pembicara luar negeri dengan biaya yang murah, ketimbang menghadirkan langsung pembicara dalam sebuah seminar internasional. Mantan Dekan FKH itu meminta para dokter baru agar terus belajar guna menghadapi dunia kerja. Ia mengaku, seluruh pimpinan Undana merasa senang dan bangga atas capaian 15 dokter hewan tersebut. Karena itu, Dr. Maxs mengajak para lulusan agar berkontribusi bagi negara melalui profesi dokter hewan.

Sementara Dekan FKH Udana, Dr. drh. Anita Deta, M.Si dalam sambutannya mengucap syukur kepada Tuhan, karena FKH Undana diberi kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan diri menciptakan lulusan dokter hewan dengan kualitas dan berkarakter baik. Pada kesempatan itu, pihaknya juga mengapresiasi para pendiri FKH Undana, antara lain Prof. Frans Umbu Data, Dr. drh. Maxs U. E Sanam dan Dr. Diana yang telah meletakan dasar dan terus mengawal perkembangan FKH hingga kini. “Saya perlu mengapresiasi, karena apalah arti kita hari ini tanpa perjuangan para pendiri,” imbuhnya.

Dengan berkaca pada perguruan tinggi lain, FKH Undana terus berkaca dengan menerapkan belajar daring guna menghasilkan lulusan yang berkompetensi termasuk memotivasi lulusan untuk siap bekerja. “Bahkan hingga saat ini, kami terus berupaya mengembangkan  diri agar lulusan kami bisa bersaing di dunia kerja. Secara khusus, kami berupaya jalin komuniasi dengan stakeholder agar lulusan kami bisa diterima di dunia kerja,” paparnya.

Dr. Anita mengakui, saat ini merupakan masa-masa sulit, akibat pandemic yang turut menimbuklkan krisis kesehatan bahkan ekonomi global, yang berdampak pada kurangnya lapangan pekerjaan. Namun, ungkap dia, dengan kemampuan wirausaha dan inovasi, maka para lulusan bisa menjawab tantangan zaman. Pihaknya menyebut,  FKH Undana terus  mengevaluasi diri untuk menjawab tantangan zaman dengan tetap menghasilkan lulusan berkualitas. Pada kesempatan itu, pihaknya berpesan kepada para lulusan agar mencari dan membuka peluang usaha sesuai passion diri para dokter hewan.

“Jangan putus asa dan menganggap bahwa pekerjaan itu kecil, tangkap kesempatan dan peluang,” tandasnya. Ia juga meminta orangtua/wali agar merelakan para dokter baru untuk mengembangkan potensi dirinya dan bekerja di luar NTT.  “Selamat memasuki dunia kerja. Belajar sepanjang hayat akan mempertajam kompetensi kita,” ungkap Anita. [rfl/ds]

Comments are closed.