121 Lulusan PPG Undana Dilantik

  • Rektor: Guru Harus Tanggungjawab terhadap Gelar Gr

Sebanyak 121 orang lulusan Program Pendidikan Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), diambil sumpah dan dilantik Dekan FKIP Dr. Malkisedek Taneo, M.Si. Acara yang digelar hybrid (on-site dan on-line) tersebut, dihadir Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D dan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (PK) NTT, Linus Lusi Making,  S. Pd., M. Pd. Para lulusan yang diambil sumpah dan dilantik tersebut tersebar di berbagai sekolah di NTT, mulai dari PAUD, TK hingga SMA.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.S., Ph. D mengatakan, dengan penambahan gelar (guru professional/gr) di belakang nama, memiliki tanggungjawab professional yang diemban. “Seharusnya kalau semakin panjang gelar yang dibubuhkan di sekitar nama kita, di depam maupun di belakang, maka beban tanggungjawab semakin besar. Bahwa Gr bukan orientasi kita terhadap tambahan tunjangan professional guru. Tetapi, tambahan tunjangan profesional seorang guru adalah konsekuensi logis dari tindakan kita melakukan pelayanan, yang profesional terhadap dunia pendidikan” tandas Prof. Fred Benu ketika memberikan sambutan pada acara Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Guru Profesional Lulusan PPG FKIP Undana Periode I Maret 2021, Senin (8/3/2021) di Hotel Neo Aston Kupang.

Rektor dua periode itu menambahkan, bukan karena gelar Gr, tetapi tanggungjawab dari Gr yaitu tindakan sebagai guru menjadi lebih profesional.  “Itu yang menjadi konsekuensi pengambilan sumpah dan pelantikan hari ini. Reward (penghargaan) adalah hasil dari profesionalisme sebagai guru profesional,” ujarnya.

Prof. Fred Benu menegaskan, 121 guru profesional patut bersyukur. Pasalnya, setelah mendapat gelar Gr, para guru akan mendapat reward dari pemerintah, karena telah bertindak secara professional. Sebaliknya, jika para guru tidak memberikan pelayanan secara professional, maka patut dipertanyakan. “Kalau kita tidak  bertindak secara profesional, tetapi kita mendapt reward guru professional, maka kita harus pertanyakan itu. (Ucapan) syukur tak panas kita naikan,” tegas Rektor.

Ia mengajak para lulusan PPG agar meningkatkan kualitas  dunia pendidikan agar kualitas anak didik pun menjadi semakin baik. “Karena kita akan bersaing menjadi bangsa besar di 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Bangsa dengan urutan nomor tujuh dunia. Belum lagi kita dapat tambahan momentum bonus demografi.  Kalau kita tidak profesional dalam memberikan pelayanan kepada anak didik kita mulai dari pendidikan dasar sampai pada perguruan tinggi, maka apalah arti bonus demografi. Justri akan menjadi beban,” papar Prof. Fred Benu.

“Sekali lagi saya meminta semua guru  yang sudah diambil sumpahnya dan dilantik hari ini bertanggungjawab terhadap gelar  yang ditambahkan dibelakang.  Kalau tidak bertanggungjawab, maka beban itu tidak saja menjadi beban diri pribadi, tetapi beban institusi, beban Undana  sebagai LPTK yang menyelengarakan profesi guru,” tambahnya.

Karena itu, ia mengajak para guru agar bertindak secara profesioal terhadap  profesi guru maupun terhadap gelar yang sudah diperoleh. “Saya percaya, pasti guru-guru profesional akan bertindak secara profesional. Rohaniawan sudah beri penguatan dan doa, itu akan mengiringi langkah pelayanan bapak dan ibu guru,” imbuhnya.

“Mudah-mudahan  gelar ini masih melekat terus pada guru, jangan sampai orang enggan sebut pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak perlu jasa profesional tunjangan, tetapi kita tetap menjadi pahlawan yang tetap memberi pelayanan bagi dunia pendidikan,” pungkas Guru Besar Ekonomi Pertanian itu.

Kadis PK NTT, Linus Lusi Making, S.Pd, M. Pd dalam sambutannya menyatakan, arah dan kebijakan Provinsi NTT sangat mendukung Undana sebagai laboratorium dalam menata SDM. Salah satunya ditandai dengan pengambilan sumpah dan pelantikan 121 guru professional.

Linus mengatakan, momentum hari ini tidak terlepas dari perjalanan pengembangan SDM bangsa Indonesia. “Kalau kita menganut sejarah sebagai sumber inspirasi dan pengembangan  tata kelola pendidikan, maka kita tidak melupakan founding father, menerapkan politis etis, ketika melihat para warga di Hindia-Belanda. Hak-hak pendidikan diabaikan dan ini menjadi pergolakan sengit di parlemen Belanda saat itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, ketika kemerdekaan di raih, maka lokomotif pertama adalah pengembangan SDM, ditandai dengan desain kurikulum 1947 hingga Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen dideklarasikan tahun 2005, yang ditandai dengan sertifikasi berbasis folio. Pihaknya menyebut, pada tahun 2006 sertifikasi folio di NTT, jumlahnya tidak mencapai 100 orang. Tetapi memasuki tahun 2007,  begitu banyak guru di NTT yang melakukan pengembangan lanjutan.

“Kita sudah dengar  Pak Rektor tadi, ini bagian dari perjalanan penghargaan terhadap profesinalisme, tidak semata-mata pengupahan atau reward, tetapi ini merupakan sebuah pertanggungjawaban di bidang akademik dan non akademik,” papar Kadis PK.

Menurut Linus, sumpah yang diucapkan para guru merupakan bagian dari keimanan dalam pelayanan. Pihaknya menjelaskan 121 guru lulusan LPTK FKIP Undana akan menambah jumlah guru sebelumnya yang terseber di 133 sekolah yakni18.844 guru.

Atas nama Gubernur NTT, Kadis PK NTT menyapaikan terima kasih kepada Rektor dan Dekan FKIP Undana yang bersedia medidik para guru menjadi lebih professional. Menurutnya spirit NTT bangkit, NTT sejahtera tidak akan berhenti pada tahun 2021, tetapi akan terus bergulir hingga NTT masuk dalam deretan 10 besar secara nasional di jenjang pendidikan. “Ini adalah tantangan dan visi NTT, dan sandaran kita tetap pada Undana sebagai lokomotif penyiapan guru profesional,” tandasnya.

Pihaknya juga menyebut wacana Pemprov NTT yang ingin meniadakan mata pelajaran lain di tingkat SD, selain Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Karen itu, pihaknya tetap meminta Undana untuk memberikan pandangan atas wacana tersebut. Meskipun kemudian akan muncul pro dan kontra di tengah masyarakat.

“Atas nama Gubernur NTT,  saya menyampaikan poficiat kepada 121 lulusan PPG Uundana, yang akan menjadi bagian dari dari restorasi menuju NTT bangkit, NTT sejahtera,” tutup Kadis PK.

Pada kesempatan tersebut,  tiga perwakilan guru yang mengikuti pengambilan sumpah dan pelantikan secara on-site menerima penyerahan sertifikat pendidik secara simbolis. Rektor Prof.  Fred Benu meyerahkan sertifikat pendidik kepada guru perwakilan Agama Kristen Protestan Sadrak Mesak Suan, S. Pd. Gr (Pend Guru SD), Dekan FKIP Dr. Malki Taneo menyerahkan kepada guru perwakilan Agama Katolik Yunianto Bota Pelo, S. Pd.Gr (Pendidikan Biologi) dan Kadis PK Linus Lusi, M.Pd menyerahkan kepada guru perwakilan Agama Islam Devi Andrianingsih, S. Pd. Gr (Pendidikan Matematika) (rfl).

Comments are closed.